Tentara
Nasional Indonesia Angkatan Udara
Saat ini TNI-AU memiliki dua komando operasi yaitu Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) yang bermarkas di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta dan Komando Operasi Angkatan Udara II (Koops AU II) yang bermarkas di Makassar. Semboyan TNI-AU adalah bahasa Sanskerta Swa Bhuwana Paksa yang berarti "Sayap Pelindung Tanah Airku".
Sejarah TNI AU lahir dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu berkekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. pada tanggal 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma
TNI Angkatan
Udara (TNI-AU) adalah bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang bertanggung jawab atas operasi
udara. TNI Angkatan Udara dipimpin oleh seorang Kepala Staf TNI Angkatan Udara yang disingkat KASAU.
Saat ini TNI-AU memiliki dua komando operasi yaitu Komando Operasi Angkatan Udara I (Koops AU I) yang bermarkas di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta dan Komando Operasi Angkatan Udara II (Koops AU II) yang bermarkas di Makassar. Semboyan TNI-AU adalah bahasa Sanskerta Swa Bhuwana Paksa yang berarti "Sayap Pelindung Tanah Airku".
Sejarah TNI AU lahir dengan dibentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu berkekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. pada tanggal 5 Oktober 1945 berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma
Pada tanggal 23 Januari
1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan
tunas Angkatan Udara. Pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan
dihapuskan dan diganti menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia, yang kini diperingati
sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya
Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada 29 Juli 1947 tiga
kadet penerbang TNI AU masing-masing Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani dan
Kadet Sutarjo Sigit dengan menggunakan dua pesawat Cureng dan satu Guntei
berhasil melakukan pemboman terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda di tiga
tempat, masing-masing di kota Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.
Modal awal TNI AU adalah
pesawat-pesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Cureng,
Nishikoren, serta Hayabusha. Pesawat-pesawat inilah yang merupakan cikal bakal
berdirinya TNI AU. Setelah keputusan Konferensi Meja Bundar tahun 1949, TNI AU
menerima beberapa aset Angkatan Udara Belanda meliputi pesawat terbang, hanggar,
depo pemeliharaan, serta depot logistik lainnya. Beberapa jenis pesawat Belanda
yang diambil alih antara lain C-47 Dakota, B-25 Mitchell, P-51 Mustang, AT-6 Harvard, PBY-5 Catalina, dan Lockheed L-12.
Tahun 1950, TNI AU
mengirimkan 60 orang calon penerbang ke California Amerika Serikat, mengikuti
pendidikan terbang pada Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA). Saat itu
TNI AU mendapat pesawat tempur dari Uni Soviet dan Eropa Timur, berupa MiG-17, MiG-19, MiG-21, pembom ringan Tupolev Tu-2, dan pemburu Lavochkin
La-11.
Pesawat-pesawat ini mengambil peran dalam Operasi Trikora dan Dwikora.
TNI AU mengalami popularitas
nasional tinggi dibawah dipimpin oleh KASAU Kedua Marsekal Madya TNI Omar Dhani
awal 1960-an. TNI AU memperbarui armadanya pada awal tahun 1980-an dengan
kedatangan pesawat OV-10
Bronco, A-4 Sky Hawk, F-5 Tiger, F-16 Fighting Falcon, dan Hawk 100/200.
Tugas
Sesuai dengan UU TNI pasal
10, Angkatan Udara bertugas:
·
Melaksanakan
tugas TNI matra udara di bidang pertahanan.
·
Menegakkan
hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional sesuai dengan
ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
·
Melaksanakan
tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra udara.
·
Melaksanakan
pemberdayaan wilayah pertahanan udara.
Organisasi
TNI-AU berada di bawah
Markas Besar TNI. Perwira tersenior
Angkatan Udara, Kepala Staf TNI Angkatan
Udara,
adalah perwira tinggi berbintang empat dengan pangkat Marsekal mengepalai Angkatan Udara
di bawah Panglima
TNI.
Mabes TNI AU membawahi Komando Utama atau biasa disingkat Kotama.
Komando Operasi Angkatan Udara I
Koopsau I mencakup wilayah
Barat, markas komando di komplek Lanuma Halim Perdanakusuma Jakarta. Panglima Koopsau I
Marsekal Muda TNI Muhamad Syaugi, S.sos dan Kapala Staf Marsekal Pertama TNI
Dedy Nitakomara, SE.
Koopsau I membawahi
beberapa pangkalan udara.
Tipe A :
1. Lanud Halim Perdanakusuma
(HLP), Jakarta
2. Lanud Atang Sendjaja (ATS), Bogor
3. Lanud Roesmin Nurjadin
(RSN) Pekanbaru (akan naik status menjadi
tipe A)
Tipe B :
1. Lanud Sultan Iskandar Muda
(SIM), Banda
Aceh
2. Lanud Suwondo (SWO), Medan
3. Lanud Husein Sastranegara
(HSN), Bandung
4. Lanud Suryadarma (SDM), Subang
Tipe C :
1. Lanud Maimun Saleh (MUS), Sabang (akan naik status menjadi
tipe B)
2. Lanud Tanjung Pinang (TPI), Tanjung Pinang (akan naik status menjadi
tipe B)
3. Lanud Hang Nadim, Batam
4. Lanud Ranai (RNI), Natuna (akan naik status menjadi
tipe B)
5. Lanud Padang (PDA), Padang
6. Lanud Palembang (PLM), Palembang
7. Lanud Astra Kestra (ATK), Lampung
8. Lanud Haji Abdullah Sanusi
Hanandjoeddin (TDN), Belitung
9. Lanud Wiriadinata (TSM), Tasikmalaya
Tipe D :
1. Lanud Sugiri Sukani (SKI), Cirebon
2. Lanud Wirasaba (WSA), Purwokerto
3. Lanud Singkawang II (SWII), Singkawang (akan naik status menjadi
tipe C)
Rencana Pembangunan :
1. Lanud Piobang (PBG) , Payakumbuh
2. Lanud Gadut (GDT) , Bukittinggi
Daftar skuadron
·
Skuadron
Udara 1 dengan pesawat Hawk Mk.109 dan Hawk Mk.209 berlokasi di Pangkalan
Udara Supadio
· Skuadron
Udara 2 dengan pesawat CN235-110M, F27-400M, CN-295 berlokasi di
Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah
·
Skuadron
Udara 6 dengan helikopter SA330 berlokasi di Pangkalan
·
Skuadron
Udara 7 dengan helikopter EC-120B dan Bell-47G berlokasi di Pangkalan Udara
Suryadarma
·
Skuadron
Udara 8 dengan helikopter NAS332 berlokasi di Pangkalan Udara Atang Senjaya
·
Skuadron
Udara 12, dengan pesawat Hawk Mk.109 dan Hawk Mk.209 berlokasi di Pangkalan
Udara Pekanbaru
·
Skuadron
Udara 16 dengan pesawat F-16 berlokasi di Pangkalan
udara Pekanbaru
·
Skuadron
Udara 17 dengan pesawat B707-3MIC, F27-400M, F28-1000/3000, L100-30, C-130H-30 berlokasi di Pangkalan
Udara Halim Perdanakusumah
·
Skuadron
Udara 31 dengan pesawat L100-30 dan C-130H-30 berlokasi di Pangkalan Udara
Halim Perdanakusumah
·
Skuadron
Udara 45 dengan helikopter AS332 berlokasi di Pangkalan Udara Halim
Perdanakusumah
·
Skuadron
Pendidikan 101 dengan pesawat AS202/18A-3 dan T-41D berlokasi di Pangkalan
Udara Adi Sucipto
·
Skuadron
Pendidikan 102 dengan pesawat T-34C dan KT-1 berlokasi di Pangkalan Udara Adi
Sucipto
Komando Operasi Angkatan Udara II
Koopsau II mencakup wilayah
timur, markas komando di komplek Lanuma Hasanudin Makassar. Panglima Koopsau II
Marsekal Muda TNI Agus Supriatna dan Kapala Staf Marsekal Pertama TNI Agus Dwi
Putranto.
Koopsau II membawahi
beberapa pangkalan udara.
Tipe A :
1. Lanud Hasanuddin (HND), Makassar
2. Lanud Iswahyudi (IWJ), Madiun
3. Lanud Abdul Rachman Saleh
(ABD), Malang
Tipe B :
1. Lanud Surabaya (SBY), Surabaya (Akan naik status menjadi
Tipe A)
2. Lanud Balikpapan (BPP), Balikpapan
3. Lanud Sam Ratulangi (SRI), Manado
4. Lanud Pattimura (PTM), Ambon
5. Lanud Jayapura (JAP), Jayapura (Akan naik status menjadi
Tipe A)
Tipe C :
1. Lanud Iskandar (IKR), Pangkalan Bun
2. Lanud Syamsuddin Noor (SAM), Banjarmasin
3. Lanud Wolter Monginsidi
(WMI), Kendari
4. Lanud Ngurah Rai (RAI), Denpasar (Akan naik status menjadi
Tipe B)
5. Lanud Rembiga (RBA), Mataram
6. Lanud Eltari (ELI), Kupang (Akan naik status menjadi
Tipe B)
7. Lanud Manuhua (MNA), Biak (Akan naik status menjadi
Tipe B)
8. Lanud Timika (TMK), Timika
9. Lanud Merauke (MRE), Merauke (Akan naik status menjadi
Tipe B)
10. Lanud Tarakan (TAK), Tarakan
Tipe D :
1. Lanud Leo Wattimena (MRT), Halmahera Utara (Akan naik status menjadi
Tipe C)
2. Lanud Dumatubun (DMN), Tual (Akan naik status menjadi
Tipe C)
Daftar skuadron
·
Skuadron
Udara 3 Elang Biru, dengan pesawat F-16A dan F-16B berlokasi di Pangkalan
Udara Iswahyudi
·
Skuadron
Udara 14 dengan pesawat F-5E dan F-5F berlokasi di Pangkalan
Udara Iswahyudi
·
Skuadron
Udara 15 Team Jupiter dengan pesawat Hawk MK-53 berlokasi di Pangkalan Udara
Iswahyudi
·
Skuadron
Udara 4 dengan pesawat NC212M-200 berlokasi di Pangkalan Udara Abdulrachman
Saleh
·
Skuadron
Udara 21 dengan pesawat EMB-314
Super Tucano berlokasi di Pangkalan Udara Abdulrachman
Saleh
·
Skuadron
Udara 32 dengan pesawat ; C-130B, KC-130B (versi tanker), C-130H berlokasi di Pangkalan
Udara Abdulrachman Saleh
·
Skuadron
Udara 5 dengan pesawat B
737-2X9 berlokasi di Pangkalan Udara Hasanuddin
·
Skuadron
Udara 11 dengan pesawat SU-27SK dan SU-30SK|SU-30MK2 berlokasi di Pangkalan
Udara Hasanuddin
Kohanudnas
Komando Pertahanan Udara
Nasional Indonesia atau biasa disingkat (KOHANUDNAS), markas komando di Komplek
Lanuma Halim Perdanakusuma Jakarta.
Korps Pasukan Khas
Paskhas merupakan satuan
tempur darat berkemampuan tiga matra, yaitu udara, laut, darat. Prajurit
Paskhas diharuskan minimal memiliki kualifikasi para-komando (parako) untuk
dapat melaksanakan tugas secara profesional, kemudian ditambahkan kemampuan
khusus kematraudaraan sesuai dengan spesialisasinya.
Koharmatau
Komando Pemeliharaan
Materiil TNI Angkatan Udara atau biasa disingkat (Koharmatau) markas komando
berada di Lanud Husein Satra Negara Bandung, membawahi :
1. Depo 10 di Lanud Husein S,
Bandung
2. Depo 20 di Lanuma
Iswahyudi, Madiun
3. Depo 30 di Lanuma Abd
Saleh, Malang
4. Depo 40 di Lanud Sulaiman,
Bandung
5. Depo 50 di Lanud Adi
Soemarmo, Surakarta
6. Depo 60 di Lanud Iswahyudi,
Madiun
7. Depo 70 di Lanud Sulaiman,
Bandung
Akademi Angkatan Udara
Akademi Angkatan Udara atau
biasa disingkat (AAU) dengan Ksatrian berada di Yogyakarta, dipimpin oleh
seorang Gubernur berpangkat Marsekal Muda dibantu seorang Wakil Gubernur
berpangkat Marsekal Pertama.
Sebutan untuk taruna AAU
disebut Karbol, saat ini Karbol dibagi menjadi tiga jurusan yaitu :
Aeronautika, Elektronika dan Teknik Manajemen Industri. Kedepan akan ditambah
satu jurusan lagi yaitu Paskhas. Setelah dilantik kesemua Karbol diberik
kesempatan untuk mengikuti seleksi masuk menjadi Penerbang. Pendidikan
dilaksanakan selama 4 tahun dan setelah lulus dan dilantik menjadi Perwira,
Karbol berhak menyandang predikat sebagai Sarjana Pertahanan.
Kodikau
Komando Pendidikan TNI AU
atau biasa disingkat (Kodikau) markas komando berada di Komplek Lanuma Halim Perdanakusuma Jakarta, terdiri :
1. Terdiri dari 2 Wingdik
1. Wingdikum Di Lanuma Halim
P.K. Jakarta Dan Lanuma Atang S. Bogor
2. Wingdiktekkal Di Lanud
Suryadarma Subang Dan Lanud Husein S. Bandung
2. Lanud tempat pelaksanaan
pendukung Kodikau :
1. Lanuma Adi Sutjipto
Yogyakarta
2. Lanud Adi Soemarmo
Surakarta
3. Lanud Sulaiman Bandung
3. Sekolah Kesatuan Komando
Angkatan Udara (SEKKAU) Ksatrian berada di Komplek Lanuma Halim PK
Jakarta,(Diperuntukkan untuk para Pama sebagai jenjang karier ke pangkat mayor
atau Pamen)
Seskoau
Sekolah Staf dan Komando
Angkatan Udara (SESKOAU) dengan Ksatrian berada di Lembang Bandung. Sekolah ini
diperuntukan bagi para perwira enengah (pamen) sebagai syarat untuk menjadi
seorang komandan satuan ataupun jenjang karier ke pangkat Kolonel).
Pangkat
Sebagaimana di kecabangan
lainnya, kepangkatan terdiri dari Perwira, Bintara dan Tamtama. Adapun pangkat tertinggi
di Angkatan Udara adalah Marsekal
Besar dengan bintang lima. Pangkat ini ditandai
dengan lima bintang emas di pundak. Pangkat ini sepadan dengan Jenderal Besar di TNI Angkatan Darat dan Laksamana Besar di TNI Angkatan Laut. Sampai saat ini belum ada
seorangpun perwira TNI Angkatan Udara yang dianugerahi pangkat
tersebut, Marsekal dengan bintang empat, Marsekal Madya dengan bintang tiga, Marsekal Muda dengan bintang dua,Marsekal Pertama dengan bintang satu.
Kekuatan pasukan
Kekuatan Pasukan TNI Angkatan Udara
TNI Angkatan Udara saat ini
dperkuat oleh 2 Pasukan yang keduanya mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda
yaitu terdiri dari :
1. Korps Pasukan Khas
(Korpaskhas). Pasukan baret jingga yang dulu sangat terkenal dengan nama
Pasukan Gerak Tjepat ((PGT) merupakan pasukan berkualifikasi Para Komando
adalah pasukan pemukul tempur darat TNI Angakatan Udara bersifat ofensif, yang
terdiri dari :
1. Den Bravo 90 Paskhas Anti
Teror
2. Den Dalpur Paskhas
3. Kompi Matra Paskhas
4. Pasukan parakomando
(parako)PPRC Paskhas sebagai pasukan lintas udara.
5. Pasukan Pertahanan Udara
Paskhas.
2. Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan
TNI AU.(Bersifat Defensif). Pasukan baret biru terbilang baru karena sebelumnya
satuan ini telah ada setiap lanuma dan lanud di seluruh Indonesia yang
anggotanya terbentuk dengan mengambil beberapa orang dari tiap staf yang ada di
pangkalan dengan di kepalai seorang perwira sebagai Kasi Kamhanlan. Kedepan
Kamhanlan akan dibentuk menjadi Satuan sendiri dipimpin oleh seorang Pama
sebagai Komandan Satuan Kamhanlanau yang bertugas melaksanakan pengamanan,
pertahanan pangkalan TNI AU juga sebagai pasukan taktis dari tiap lanud. Tugas
pengamanan pangkalan sebelumnya diemban oleh Satuan Provost AU kala itu masih
menggunakan korps pasukan (Psk)yang salah satunya bertugas sebagai Pamfik, maka
setelah berubah menjadi POMAU selanjutnya dikembalikan melaksanakan tugas-tugas
kepolisian militer yaitu Gaktiblin, penyidikan, walmor dan protokoler.
Komando Paduan Tempur Udara
Pelaksanaan operasi tempur
TNI Angkatan Udara merupakan gabungan dari unsur-unsur tempur yang dimiliki
yaitu unsur pesawat/pangkalan, unsur radar dan unsur pasukan pemukul dan
pertahanan udara Korpaskhas. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan dalam pelaksanaan suatu operasi udara atau untuk lebih mudah
menyingkatnya dengan istilah Komando Paduan Tempur Udara. Kotama Operasi
pelaksananya adalah :
1. Koopsau, terdiri
dari :
1. Unsur pesawat (Tempur,
Angkut, Intai, Heli)
2. Unsur pendukung
(Lanuma/Lanud)
2. Kohanudnas, terdiri
dari :
1. Satuan radar GCI (Ground
Control Interception)
2. Satuan radar EW (Early
Warning)
3. Korpaskhas, terdiri
dari :
1. Satuan pemukul (Resimen
Parako PPRC Paskhas)
2. Satuan pertahanan udara
(Resimen Arhanud/PSU Paskhas)
3. Satuan pertahanan pangkalan
Alat utama sistem
persenjataan
Tentara Nasional Indonesia
Angkatan Udara sudah memesan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang
baru yang akan diperkenalkan kepada publik pada perayaan hari ulang tahun TNI
yang ke 69, pada tanggal 5 Oktober 2014 nanti.[7]
Secara kualitatif kebutuhan alutsista dan penggelarannya disusun
berdasarkan tugas-tugas untuk melaksanakan operasi udara dalam rangka penegakan
kedaulatan di darat dan di laut, maka idealnya harus memiliki :
Kekuatan Pemukul Udara
1. Pesawat penyerang yang
mampu melaksanakan operasi udara strategis dan taktis untuk penghancuran
sasaran darat maupun perairan sampai dengan daerah persiapan lawan.
2. Pesawat Peringatan Dini /
Advanced Early Warning (AEW) yang mampu melaksanakan manajemen pertempuran
udara. Perang elektronika untuk mengganggu kemampuan gelombang elektromagnetik
musuh dan menjamin kelancaran penggunaan gelombang elektromagnet sendiri.
3. Pesawat Tanker yang mampu
melaksanakan dukungan Air Refeuling bagi pesawat penyerang yang direncanakan
untuk beroperasi jauh diluar ZEE.
4. Pesawat komando yang
dilengkapi dengan sarana K3I dan memiliki jarak jangkau dan kemampuan yang
memadai sebagai sarana pimpinan untuk mengendalikan dan memonitor jalannya
operasi yang dibutuhkan pesawat Kodal.
Kekuatan Intai Udara
1. Pesawat Intai udara Strategis,
untuk pengintaian sampai diluar batas ZEE.
2. Pesawat Intai udara Taktis,
untuk pengintaian secara detail daerah pertempuran baik pesawat berawak maupun
tak berawak.
Kekuatan Lintas Udara
1. Pesawat Angkut Strategis
yang mampu mengangkut Batalion Lintas Udara Korpaskhas ke daerah trouble spot.
2. Pesawat Angkut Taktis dan
Helikopter.
3. Pesawat Angkut Khusus
VVIP/VIP baik fix wing maupun rotary wing.
Kalau diturunkan ke tingkat
operasional, TNI Angkatan Udara memerlukan jet-jet tempur dalam beragam
kemampuan sejumlah 250-300 unit, 40 pesawat sekelas C-130 Hercules, 2 pesawat
sekelas E-3 Sentry AWACS dengan pertimbangan satu di barat dan satu di timur,
serta 8 pesawat sekelas E-2C Hawkeye masing-masing 4 di barat dan timur. Tentu
penggelaran kekuatan seperti ini belum memadai karena TNI Angkatan Udara harus
melengkapi diri dengan pesawat pembom, pemburu-pembom jarak jauh, pesawat anti
gerilya Counter Insurgency (COIN), pesawat tanker, heli-heli combat-SAR,
radar-radar GCI dan EW, pemekaran pasukan korpaskhas dengan cara membentuk
batalyon-batalyon pemukul dan batalyon-batalyon pertahanan udara berupa
situs-situs rudal darat ke udara (SAM), serta artileri anti serangan udara dan
merupakan gagasan ideal yang mesti masuk dalam Grand Strategy yaitu pengadaan
pesawat siluman.
Pesawat tempur dan helikopter
Pesawat
|
Negara Asal
|
Peran
|
Versi
|
Jumlah
|
Beroperasi
|
Dalam Pesanan
|
Catatan
|
Pesawat Latih
|
|||||||
FFA AS/SA-202 Bravo
|
Italia
Swiss |
pesawat latih
|
AS/SA 202-18A
|
40
|
28
|
||
KAI KT-1 Wongbee
|
Korea Selatan
|
pesawat latih
|
KT-1B
|
11
|
11
|
5
|
|
Beechcraft T-34 Mentor
|
Amerika Serikat
|
pesawat latih
|
T-34C
|
14
|
14
|
||
Aermacchi SF.260
|
Italia
|
pesawat latih
|
SF-260M/W
|
19
|
-
|
19 unit disumbang oleh Singapura.
1 unit di jadikan monumen di depan SESKO TNI. Tidak Aktif
|
|
BAe Hawk
|
Britania Raya
|
advanced jet trainer
|
Hawk 53
Hawk 109
|
6
7
|
2
7
|
||
Total
|
97
|
62
|
5
|
||||
Pesawat Tempur
|
|||||||
BAe Hawk 209
|
Britania Raya
|
pesawat serang ringan
|
Hawk 209
|
32
|
32
|
||
T-50 Golden Eagle
|
Korea Selatan
|
pesawat latih dan serang ringan
|
T-50
|
0
|
0
|
16
|
16 sudah dipesan dan mulai tiba
pada 2012
|
Embraer EMB 314 Super Tucano
|
Brasil
|
pesawat serang ringan/COIN
(counter-insurgency)
|
A-29
|
4
|
4
|
12
|
16 dipesan;
dibutuhkan 16 unit untuk menggantikan OV-10F Bronco, 4 Unit sudah datang pada
awal September 2012
|
Lockheed Martin F-16 Fighting Falcon
|
Amerika Serikat
|
pesawat multiperan
|
F-16A Block-15 OCU
F-16B Block-15 OCU
|
7
3
|
7
3
|
24+6 cadangan
|
Indonesia memiliki 12 unit F-16
pada 1996, tetapi 2 unit mengalami kecelakaan pada dua insiden berbeda.
|
Northrop F-5E/F Tiger II
|
Amerika Serikat
|
pesawat multiperan
|
F-5E/F
|
12
|
6
|
||
Sukhoi Su-27
|
Rusia
|
Su-27SK
Su-27SKM
|
2
3
|
-
3
|
|||
Sukhoi Su-30
|
Rusia
|
pesawat superioritas udara
|
Su-30MK
Su-30MK2
|
2
7
|
1
7
|
2
|
|
F-33
|
Korea Selatan Indonesia
|
pesawat multiperan
|
K/IF-X
|
0
|
0
|
50
|
|
Total
|
72
|
63
|
113
|
||||
Angkutan udara
taktis, pesawat transport, pesawat patroli maritim
|
|||||||
|
|
737 2Q8
737-400
737 2x9 Surveiller
|
1
2
3
|
1
2
3
|
bekas Garuda Indonesia
|
|||
DHC-5D
|
3
|
3
|
|||||
|
|
C-130B/-H/-H-30
KC-130BHercules
|
24
2
|
8
2
|
Sedang direncanakan untuk varian
baru
|
|||
L-100-30
|
8
|
6
|
|||||
Belanda |
F27-400M
|
7
|
6
|
||||
Spanyol
Indonesia |
pesawat angkut
|
CN-235 110/220M
CN-235 MPA
|
16
0
|
16
0
|
0
3
|
†
|
|
|
pesawat peringatan dini
|
C-295 M
C-295 MPA
C-295 AEW&C
|
1
0
0
|
1
0
0
|
2
3
3
|
† Indonesia agree for license
C-295, 40% spare parts from Indonesia. Indonesia build role of transport
aircraft, MPA, and AEW&C [11]
|
||
F-28 Mk 1000
F-28 Mk 3000
|
5
|
5
|
|||||
NC-212-100
NC-212-200
NC-212-400[12]
|
28
|
28
|
†
|
||||
Total
|
88
|
69
|
3
|
||||
helikopter utilitas ringan
|
EC-120B
|
11
|
11
|
||||
helikopter utilitas
|
S-58T
|
12
|
8
|
||||
NAS 330J
|
11
|
11
|
†
|
||||
NBell 412S
NBell 412HP
|
4
4
|
4
4
|
†
|
||||
Bell 204B
|
5
|
4
|
|||||
NBO-105 CB
NBO-105 CBS
|
6
1
|
6
1
|
†
|
||||
|
|
NAS-332 Super Puma
NAS-332 Super Puma VVIP
|
7
2
|
7
2
|
7
|
†
A total of 16 has been ordered
since 1998
|
||
Total
|
63
|
58
|
7
|
||||
Radar dan peluru kendali
Saat ini TNI AU
mengoperasikan 16 situs radar di seluruh Indonesia.
Daftar peluru kendali yang
digunakan TNI AU :
·
Udara-ke-udara
·
AIM-9
Sidewinder
·
R-73
Archer
·
R-27
Alamo
·
R-77
Adder
·
MAA-1
Piranha
·
Udara-ke-darat
·
AGM-65
Maverick
·
AGM-84
Harpoon
·
Kh-29
Kedge
·
Kh-31
Krypton
·
Kh-59
Kingbolt
Pengembangan
Pengembangan organisasi
Untuk pengembangan
organisasi kedepan saat ini tengah diusulkan ke Mabes TNI-AU untuk pembentukan Wing III
Paskhas di Kota
Medan Sumatera
Utara untuk menjaga wilayah barat Indonesia yang
meliputi wilayah sekitar Pulau
Sumatera dan sekitarnya.
Sedangkan Wing I Paskhas di
Kota Jakarta untuk menjaga wilayah
tengah Indonesia yang meliputi wilayah sekitar DKI Jakarta, Pulau
Jawa, Kalimantan dan Bali.
Untuk Wing II Paskhas yang
sebelumnya berada di Malang Jawa
Timur akan dipindah ke Kota Makassar Sulawesi Selatan untuk menjaga wilayah timur
Indonesia yang meliputi wilayah sekitarNusa
Tenggara, Sulawesi, Kepulauan
Maluku dan Papua.
Sedangkan yang sebelumnya
Wing III Pusdik Paskhas menjadi Kodiklat Paskhas serta pembentukan Wing 100
Peluncur Rudal Menengah/Jauh Paskhas Kohanudnas, terdiri dari tiap Batalyon
Peluncur Rudal di tiap Kosek Hanudnas.
Direncanakan pula
penambahan 2 batalyon PPRC Paskhas yaitu Batalyon PPRC Paskhas 463 di Medan,
Batalyon PPRC Paskhas 467 di Kupang dan Kompi BS di beberapa Lanud yang telah
naik status ke Type B diantaranya Lanud Balikpapan, Bali, Maluku, Menado,
Jayapura,Palembang. Peningkatan status Kompi Matra menjadi Batalyon Bantuan
tempur Paskhas di tiap Wing Paskhas yang terdiri atas (Kompi Keslap, Kompi
Komlek, Kompi Bekangmor, Kompi Kavaleri dan Tim Dallan/Sar),
Peningkatan Tim Dalpur
menjadi satuan tersendiri menjadi Detasemen Dalpur Paskhas di tiap Wing
Paskhas, serta Pembentukan 10 Detasemen Arhanud/PSU Paskhas yaitu peningkatan
bateray-bateray PSU yang sebelumnya berada di tiap Batalyon PPRC untuk
dijadikan satuan tersendiri menjadi Detasemen Pertahanan Udara Paskhas (Den
Hanud) di tiap Lanuma dan Lanud Type B serta perubahan Status Batalyon 463 dan
467 menjadi Batalyon Arhanud Mobile "1" Paskhas dan Batalyon Arhanud
Mobile "2" Paskhas yang bersifat mobile dengan Alutsista berupa Rudal
Manpad QW3 untuk pengamanan Satuan Radar di seluruh NKRI.
Pengembangan alutsista
Amanat Kepala Staf TNI
Angkatan Udara pada Apel Khusus tanggal 2 Januari 2012 yang dibacakan di
seluruh satuan kerja TNI Angkatan Udara yang menyebutkan Rencana Strategis
kedepan hingga 2014 menuju The First Class Air Force dengan menambah 5 skuadron
udara baru, satuan radar, 2 batalyon tempur Paskhas, 10 satuan rudal Paskhas.
Pengembangan doktrin
Doktrin disusun atas
pengalaman sejarah dan terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan
organisasi, peralatan, perkembangan lingkungan. Perlu dipertimbangkan lebih
jauh yaitu doktrin untuk dapat menambah dari balik cakrawala atau bahkan jauh
dari belakang garis depan pertempuran. Kehadiran pesawat AEW dan AWAC’S akan
memberikan peluang bagi pengembangan doktrin tempur.
Pengembangan strategis
Keberpihakan dan perhatian
dari pemerintah serta parlemen merupakan angin segar bagi militer Indonesia
terutama TNI Angkatan Udara yang mengalami embargo senjata di hampir semua
aspek hingga mengakibatkan penurunan secara drastis kesiapan tempur. Dalam
Rancangan Rencana Strategis Pembangunan TNI Angkatan Udara 2010-2014, TNI
Angkatan Udara merencanakan Pengembangan sistem dan evaluasi kinerja Matra
Udara terdiri dari :
1. Melaksanakan evaluasi kegiatan/program
kerja Tahun Anggaran 2009 dan menyusun Rencana Kerja TNI AU.
2. Menyusun buku petunjuk
induk, pelaksanaan, dan teknis dalam bidang intelijen, operasi, logistik,
personel, lemdik, maupun buku petunjuk lainnya untuk mendukung pelaksanaan
tugas.
3. Memperbanyak buku-buku
perpustakaan, buku bahan pelajaran dan naskah sekolah di tingkat Mabesau,
Kotama, balakpus, dan satker dibawah jajaran TNI AU sebagai sarana dalam
pelaksanaan tugas.
4. Pengembangan organisasi
Lanud Supadio dari tipe B menjadi Lanuma Supadio tipe A.
5. Pengembangan organisasi
Lanud Pekanbaru dari tipe B menjadi Lanuma Pekanbaru tipe A.
6. Pengembangan organisasi
Lanud Ngurah Rai dari tipe C menjadi tipe B.
7. Pengembangan organisasi
Lanud Eltari dari tipe C menjadi tipe B.
8. Pengembangan organisasi Lanud
Pattimura dari tipe C menjadi tipe B.
9. Pengembangan organisasi
Lanud Manuhua dari tipe C menjadi tipe B.
10. Pengembangan organisasi
Lanud Morotai dari tipe D menjadi tipe C.
11. Peningkatan Status
Detasemen Putusibau menjadi Lanud Tipe C.
12. Pembentukan baru organisasi
skadron pesawat UAV.
13. Pembentukan baru organisasi
skadron dengan menambah 24 pesawat F16.
14. Penataan dan pemantapan
skadron 11 dengan menambah 6 unit Sukhoi.
15. Pembentukan baru organisasi
skadron-45 VIP Helikopter.
16. Pengaktifan kembali Skadron
21 dengan pesawat super tucano.
17. Pengaktifan kembali Skadron
14 dengan pesawat TA-50.
18. Pembentukan baru organisasi
2 batalyon pprc paskhas yaitu peningkatan status kompi A BS Medan dan kompi E
BS Yogyakarta.
19. Pembentukan baru organisasi
2 Kompi BS paskhas karena peningkatan status lanud dari tipe C menjadi tipe B
yaitu lanud ngurahrai dan pattimura.
20. Pembentukan baru organisasi
10 Detasemen Hanud/Satuan Rudal paskhas yaitu pemisahan bateray PSU yang ada
ditiap batalyon tempur paskhas menjadi satuan berdiri sendiri di Lanuma maupun
Lanud tipe B.
21. Penataan dan pemantapan
batalyon pprc 461/464 paskhas dengan kekuatan 3 kompi senapan, 1 kompi bantuan,
1 kompi matra dan 1 kompi markas dengan pemenuhan jumlah personel tiap kompi
secara penuh yaitu 100-125 berikut dukungan Alut Sista serta Rantis maupun
Ranmor.
22. Penataan dan pemantapan
batalyon pprc 462/465/466/468 paskhas dengan kekuatan 3 kompi senapan, 1 kompi
bantuan, dan 1 kompi markas dengan pemenuhan jumlah personel tiap kompi secara
penuh yaitu 100-125 berikut dukungan Alut Sista serta Rantis maupun Ranmor.
23. Penataan dan pemantapan
batalyon 463/467 paskhas sebagai batalyon artileri pertahanan udara secara
mobile untuk tugas pertahanan udara diseluruh pangkalan yang belum terdapat Den
Hanud paskhas dengan kekuatan 4 Bateray dan 1 kompi markas dengan pemenuhan
jumlah personel tiap bateray secara penuh yaitu 90-100 berikut dukungan Alut
Sista serta Rantis maupun Ranmor.
24. Pembentukan baru organisasi
Satuan Keamanan Pertahanan Pangkalan yaitu peningkatan status Kasi Kamhanlanau
menjadi Dansatkamhanlanau di tiap pangkalan dengan penataan pemenuhan personel
satkamhanlanau di tiap lanud tipe A 100 orang, tipe B 75 orang dan tipe C 35
orang.
25. Perubahan status
Dispamsanau menjadi pusintelau serta pembentukan dan pemantapan Den intel
Koopsau I dan II.
26. Pengaktifan kembali
organisasi sathar 14 depohar 10 untuk pemeliharaan tingkat berat pesawat boeing
737-200, F-28, F-27, dan CN-235.
27. Pengembangan sistem
informasi TNI AU bidang-bidang intelijen, operasi, personel, logistik, srena
dan wasrik.
28. Pengembangan sepuluh
komponen dan sistem pendidikan TNI AU.
29. Pengembangan dan
revitalisasi lembaga pengkajian Seskoau yang independen.
30. Pengembangan sistem
pengamanan data Disinfolahtaau, serta pengembangan aplikasi sistem penggajian
TNI AU.
31. Penataan struktur
organisasi dan penyusunan/evaluasi perangkat lunak AAU.
Pemberdayaan wilayah pertahanan udara
Sesuai dengan UU TNI pasal
10, Angkatan Udara salah satunya adalah bertugas melaksanakan pemberdayaan
wilayah pertahanan udara di seluruh Indonesia. Dalam konteks ini TNI AU
diharapkan mampu melaksanakan pemberdayaan kewilayahan tentang pertahanan udara
melalui pembinaan kepada masyarakat tentang potensi dirgantara diseluruh
pelosok dan pencegahan secara dini ancaman udara melalui koordinasi aktif
dengan satuan samping teritorial daerah, yaitu dengan menempatkan personel
sebanyak 25 orang di tiap Korem di seluruh Indonesia
No comments:
Post a Comment